Sabtu, 09 Juli 2011

Bolehkah Seorang Suami Mengganti Puasa Isterinya?

Para ulama bersepakat tidak boleh seseorang berpuasa bagi orang lain semasa hidupnya dan seandainya dia berpuasa baginya maka tidaklah sah dan tidak menghilangkan kewajiban orang tersebut.

Imam Nawawi didalam kitabnya “Syarh” nya mengatakan bahwa al Qadhi dan para sahabat kami —Syafi’iyah— bersepakat bahwa tidaklah seseorang melakukan shalat untuk orang lain —yang telah meninggal— terhadap shalat-shalatnya yang tidak dikerjakannya dan tidak pula berpuasa bagi seseorang semasa hidupnya. Namun terjadi perbedaan pendapat terhadap orang yang telah meninggal. (Shahih Muslim bi Syarh an Nawawi juz IV hal 144)

Hal yang sama juga disebutkan pemilik kitab “Asnaa al Mathalib” bahwa tidak sah puasa bagi seseorang yang masih hidup tanpa ada perbedaan baik orang tersebut memiliki halangan atau tidak. Didalam penjelasannya tentang perkataannya : “Tidak sah puasa bagi seseorang yang masih hidup” dinukil di dalam “Syarh Muslim” bahwa hal itu adalah ijma’. Al-Mawardi mengatakan tidak dibolehkan mengqadha (puasa) terhadap orang yang masih hidup menurut ijma’ baik ia diperintahkan atau tidak juga tidak terhadap orang yang masih memiliki kesanggupan atau tidak. (Asnaa al Mathalib juz V hal 369)

Dengan demikian tidak diperbolehkan bagi Anda menggantikan puasa istri yang ditinggalkannya pada Ramadhan tahun lalu meski dengan alasan sedang hamil muda. Jika memang istri anda tidak memiliki kesanggupan untuk mengqadha puasanya hingga ramadhan tahun ini datang maka diharuskan baginya untuk mengqadhanya pada hari-hari setelah ramadhan tahun ini berakhir.

Jika dirinya meninggalkan qadha puasanya hingga datang ramadhan tahun ini tanpa memiliki alasan syar’i maka diharuskan baginya bertaubat dengan taubat nashuha karena dirinya telah berdosa. Namun para ulama berbeda pendapat apakah diwajibkan baginya kafarat ? Pendapat yang tepat adalah tidak diwajibkan atasnya kafarat berdasarkan keumuman firman Allah SWT :

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ

Artinya : “Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah [2] : 184)disadur dari eramuslim.

Salam


Wallahu A’lam.

Jumat, 08 Juli 2011

suaraqalbu

Rentenir

Barangkali ini cerita yang klasik tentang rentenir. Namun itulah pengalaman pahit yang kini menerpa kehidupan rumahtanggaku, hingga berantakan dan berakibat fatal. Memang sekilas seperti memberikan pertolongan terhadap orang-orang yang tidak mampu, namun dibalik semua itu malah mencekik hingga tak berdaya. Sehingga harta yang dimiliki dan disayang-sayang harus rela melayang. Bahkan sekarang orang-orang tercinta pun menjadi korban akibat dari kejam nya rentenir. Sekarang mereka menjauh dariku dan mungkin dalam jangka waktu lama aku dapat berjumpa dengan mereka. Andai aku tahu dari semula, mungkin ini tidak akan terjadi.

Begitu kejam meskipun sopan. Begitu halus permainannya sehingga orang terkecoh akan tindakannya. Meskipun mengatasnamakan koperasi pada akhirnya tetap saja memakai sistem Riba bunga berbunga. Aku sangat sedih orang-orang dilingkunganku terlibat utang piutang dengan rentenir. Bahkan Isteriku pun ikut bergabung dengan mereka dan kini mereka yang sudah ikut serta dalam permainan ini harus berpisah dengan para suaminya, termasuk dirikupun harus rela kehilangan istri dan jauh dengan anak-anak tercinta. Astaghfirullahal 'adzim...apakah ini termasuk tanda-tanda datangnya Kiyamat? Dimana orang miskin berpesta pora dengan glamour kemewahan dunia serta meninggalkan nilai-nilai moral dan etika. Wallahu'alam. Tetapi memang sudah jelas dimana mereka slalu mengutamakan kepentingan dan kesenangan pribadi dan memperkaya diri walau dengan jalan dan cara yang tidak benar. Belum lagi korupsi dimana-mana di semua kalangan. Mereka tak akan pernah jera dan takut dengan hukuman dunia, karena semua itu bisa diselesaikan dengan uang hasil kejahatannya. Apalagi dengan azab Allah yang tidak langsung berakibat pada diri maupun keluarganya, mereka (paara koruptor)takkan pernah merasa takut.

Mungkin ini hanya sekelumit kisah yang memang terjadi saat ini. Saya menghimbau anda semua agar berhati-hati dengan yang namanya Rentenir. Biarpun kita sangat memerlukan dana, janganlah pernah berhubungan dengan mereka karena anda akan hancur.

Wallahu"alam



Selasa, 05 April 2011

Memahami Makna Kaya

alam ayat cinta-NYA menyebutkan, yang artinya “Wahai manusia! kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir [35] : 15)

Ingatanku melayang saat usia bocah, saat saya baru masuk Sekolah Dasar. Sepulang sekolah masih pagi jam sepuluh, saya melihat seorang kakek sedang berjalan dalam satu arah denganku, beliau berpakaian lusuh, bertopi yang robek-robek di sana-sini seraya memikul plastik hitam (kantong kresek) yang dengan penampilan sedemikian, semua orang akan berpikiran sama : mungkin beliau adalah pemulung atau peminta-minta. Lalu kusapa dirinya, kuberikan koin uang jajanku yang jumlahnya tak seberapa, kakek itu hanya menunduk dan mengucapkan terima kasih. Ia terus saja berjalan sambil menunduk, sedangkan saya telah berbelok ke pekarangan rumah, disambut oleh ibu tercinta.

Ibuku sempat melihat kakek tersebut dari kejauhan, lalu ibu malah tertawa mendengar ceritaku yang telah memberikan koin sebagai uang infaq, “Kakek itu sedang bersandiwara... dia pasti mau mengunjungi panti asuhannya atau menyetor uangnya ke bank, dia selalu bawa kresek hitam, bukan pemulung, isinya tuh uang, sayang... dia tetangga kita beberapa blok dari sini, bapaknya mbak fulanah itu lho, yang pengusaha...”, ujar ibu, membuatku terbengong sesaat. Wow, pikiranku berkecamuk, hebat banget kakek itu, sempurna penyamarannya, tak goyah walaupun di depan sosok anak kecil sepertiku.

Di lain waktu ketika ibu melewati rumah si kakek, kakek itu mengembalikan koinku tersebut kepada ibu seraya saling sapa sebentar. Memang area dalam kompleks perumahan kami cukup terjaga keamanannya, dan sudah jadi rahasia umum, jika akan bepergian ke luar kompleks, harus meneliti penampilan, jangan sampai mencolok dan mengumbar harta benda agar tak menimbulkan niat jahat bagi mata-mata yang memandang, kota kami dulu digelari ‘kota preman’, mungkin sampai kini masih menyandang status mengerikan itu.

Dan banyak pula sosok-sosok lain teman-teman di luar negeri yang tetap menjaga kesederhanaan penampilan walaupun bukan dalam rangka sandiwara sebagaimana kakek tetangga kami tersebut, namun kesamaan sikap mereka sungguh membuat hati ikut luruh, sikap tawaduk justru membawa kemuliaan bagi seseorang, di mata Allah ta’ala, juga manusia seisi bumi. Bahkan para teman kita yang punya banyak investasi dunia tersebut, lebih memilih berjalan kaki atau naik sepeda dari pada sering-sering menghabiskan energi dengan mobil mewah, sebagaimana kebiasaan kaum borju.

Dahulu diriku punya guru renang semasa SD, ia adalah warga negara Jepang yang bekerja di kota kami, ia pun sejak awal pindah ke Indonesia, malah membeli sepeda untuk menemaninya ke kantor dan kemana-mana di area kompleks dan sekitarnya, meskipun sebenarnya ia disediakan mobil dan sopir pribadi. Sewaktu kami murid-murid renangnya datang ke appartementnya, ia mencicipi kami roti tawar diolesi saos sambal (baru kali pertama itulah, saya menikmati roti tawar berselai sambal), serta semangkuk salad yang berisikan tomat dan timun, katanya itu adalah menu makan siangnya. Kami waktu itu mengira makanan itu ‘hanyalah snacks kecil’ saja, kalau makan siang kebanyakan dari kita kan biasanya lengkap, sup, nasi dengan lauk-pauk dan buah-buahan atau tinggal order fast-food saja, dll. Dan ternyata, hidup bersahaja dengan tetap memperhatikan makanan dan kendaraan yang sehat seperti itu, menambah hikmah besar lain, disamping keridhoan Ilahi Robbi dunia dan akhirat, yaitu kondisi kesehatan akan terjaga, terbukti 20 tahun tak berjumpa sang guru, saat melihat berita tentangnya lintas website, penampilan fisiknya tak jauh berbeda dengan 20 tahun lalu! Yah, mungkin juga hal itu salah satu “bonus-NYA” sejak ia telah menjadi muallaf.

Kuingat pula 4 tahun lalu saat suamiku harus dinas ke Johannesburgh, south-africa, di masjid terbesar dengan ribuan hektar tanah sekitarnya tak perlu ada tanda-tanda palang atau tanda kepemilikan tanah, semua penduduk tau bahwa seluruh tanah luas yang mengelilingi masjid itu adalah kepunyaan Mr. Fulan. Beliau ini kerjanya hanya tinggal mengamati perputaran uang saja, bisa bebas saja 24 jam beliau berdiam di masjid itu, karena memang sudah sangat kaya raya. Semua gedung, bangunan milik pemerintah atau swasta di sekitar masjid harus membayar sewa tanah kepadanya, kontraknya berlaku 20 tahun hingga ratusan tahun! Bayangkan, riwayat turun-temurun pewaris keluarga Mr. Fulan tidak mau menjual sejengkal pun tanah tersebut sebagai usaha menjaga kemuliaan Islam di tanah itu.

Nasib yang berbeda dengan para penduduk di sekitar jalan Sudirman Jakarta puluhan tahun lalu, kan rumah-rumah mereka sudah digusur tuh, lalu Jakarta jadi beken dengan kemegahan gedung-gedungnya. Siapapun tak menduga, seorang Mr. Fulan sangat sederhana, jubahnya biasa-biasa saja, malah di rumahnya tak ada televisi, menyapu halaman masjid Johannesburgh sesekali, tidak mau disorot kamera (apalagi kamera wartawan), tidak suka ke restoran mewah, ternyata beliau adalah pemilik ribuan hektar tanah tersebut, kekayaan nominalnya ratusan juta dollar.

“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Subhanalloh, anak-anak cucu setiap generasinya diajarkan menikmati kekayaan sejati : alam yang luas yang harus disyukuri, bukan diukur dari lembaran uang dan luasnya tanah yang beliau miliki. Pastilah semua orang penasaran pada sikap tawaduknya, menjadi seorang yang dimuliakan orang banyak tanpa perlu mengumbar-ngumbar harta kekayaan yang sebanyak itu (insya Allah kalah deh jumlah harta haram koruptor-koruptor dengan harta halal kepunyaan beliau), namun ternyata beliau sadar betul, Rasulullah SAW serta para sahabat sudah memberikan banyak keteladanan buat kita, bahwa “Segalanya hanya titipan Allah SWT saja...”

Allah SWT berfirman, "Hai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al A'raf [7] :31)

Begitu pula beberapa tahun lalu, diriku mengenal Ummu ‘aisyah, wajahnya cantik dan masih tampak polos seperti anak remaja, padahal anak-anaknya sudah banyak. Penampilan Ummu ‘aisyah sederhana sekali, kerudungnya cuma beberapa buah, semua teman pasti hafal warna kerudung Ummu ‘aisyah, bajunya yang dipakai hanya berganti yang itu-itu saja. Saya sangat menyayangi dan menghormati beliau, ilmu agamanya sangat banyak, asyik diajak diskusi tentang anak-anak pula.

Suatu hari ada acara pengumpulan dana untuk saudara kita di Gaza, tanpa canggung Ummu ‘aisyah menyerahkan beberapa perhiasan serta segepok uang (karena kebetulan saya jadi bendahara, maka ia serahkan untuk segera saya catat saat itu), Subhanalloh... Uang tersebut kalau dihitung, malah bisa cukup buat modal memulai bisnis kerudung plus sewa lokasinya.

Dalam nurani ini, sungguh ‘kaya’ hati yaa Ummu ‘aisyah, padahal tas tanganmu pun kulihat robek di beberapa sudutnya, kaos kakimu juga sudah luntur warnanya, kerudungmu yang itu-itu saja—nampak kumal karena pudar warnanya.

Ummu ‘aisyah jauh lebih peduli dengan tabungan akhirat, tak mudah baginya berbelanja urusan dunia, dianggapnya hal yang kurang penting. Keperluan pribadinya dikesampingkan, beliau lebih mengutamakan membantu sesama, juga banyak keperluan anak-anak yang harus didahulukan.

Memang kita sering tak sadar, bisa jadi teman-teman atau saudara sekitar selalu dekat dan akrab karena pengaruh keduniaan, ‘kepentingan sejati’ menjadikan diri seseorang dimuliakan oleh orang lain.

Namun jika pergaulan mukmin sejati yang dilandasi ikatan cinta nan kuat karena Allah SWT, insya Allah tak memandang bagaimana penampilan saudara/saudarinya. Walaupun Ummu ‘aisyah mudah saja mengeluarkan infaq dan sedekah bagi teman yang memerlukan, beliau juga keras dan tegas menolak system ‘sogok-menyogok’ yang sering diganti nama “sedekah pelicin” itu. Makanya semua orang mengagumi dan sangat menghargai beliau, makna kaya dalam sudut pandangnya ialah hati ikhlas, selalu bersikap mudah melaksanakan infaq sedekah, dan menolong orang lain. Jadi jika kita menemukan orang yang susah mengeluarkan zakat, infaq, sedekah, namun mengaku-ngaku sebagai orang kaya, berarti orang itu bohong donk, kekayaan sejati adalah banyak memberi. Kekayaan sesungguhnya adalah kontribusi yang diberikan kepada sesama, bekal yang diharapkan dapat menyelamatkan diri di yaumil hisab kelak.

“Bukanlah yang dinamakan kaya itu karena banyak hartanya, tetapi yang dinamakan kaya sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR. Al-Bukhari & Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Sungguh beruntung hamba-hamba-Nya yang senantiasa kaya dalam keimanan dan sikap istiqomah di jalan Ilahi. Dan diri ini amat beruntung melihat pelajaran nyata dari mereka yang kaya raya tersebut, mereka yang senantiasa mengingatkan bahwa Allah ta’ala Sang Pemilik segala, apapun yang ada hanyalah amanah sementara. Serta mengingatkan akan contoh teladan kita, Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam yang mencontohkan kehidupan paling ideal dalam mencari perbekalan agar selamat di kampung akhirat.

“Barangsiapa yang menjadikan Akhirat sebagai harapannya, maka Allah akan memberikan kepuasan dalam hatinya, menghimpun segala impiannya, dan dunia pun akan mendatanginya dengan merunduk. Barang siapa yang menjadikan Dunia sebagai cita-citanya, maka Allah akan menjadikan kemiskinan di depan matanya, membuyarkan segala impiannya, dan dunia pun tidak akan mendatanginya melainkan apa yang telah ditentukan baginya.” (HR. Tirmidzi)

“Duhai Allah, Bimbinglah kami selalu, Letakkan dunia di tanganku, bukan di hatiku...”

disadur dari eramuslim

Wallahu'alam bishawab

Jumat, 25 Februari 2011

Sabar Menghadapi Ujian Dan Tawakkal Kepada Allah Semata

Di dalam surah Al-Baqarah Allah سبحانه و تعالى menyatakan bahwa agar berhak memasuki surga orang-orang beriman mesti melalui berbagai ujian terlebih dahulu. Sebagaimana umat beriman di masa lalu juga mengalami berbagai ujian. Allah سبحانه و تعالى berfirman:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS Al-Baqarah [2] : 214)

Subhaanallah...! Coba bayangkan. Sudahlah para sahabat memang sedang menjalani masa sulit dengan aneka ujian dan cobaan di masa itu. Tetapi lihatlah bagaimana Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم mendidik para sahabat untuk bersabar dan melipat-gandakan kesabaran. Justeru mendengar apa yang dikatakan oleh Khabab ibnul Arat malah Rasulullah صلى الله عليه و سلم memberikan bayangan ujian kesulitan hidup yang jauh lebih dahsyat yang telah menimpa generasi terdahulu sebelum para sahabat. Ujian generasi terdahulu lebih berat lagi dibandingkan ujian para sahabat. Padahal apa yang dialami oleh para sahabat-pun bukanlah ujian dan cobaan yang ringan..! Bahkan Nabi صلى الله عليه و سلم mengakhiri pesannya kepada Khabab dengan menegurnya secara keras dan menilainya sebagai bagian dari golongan yang tidak sabar...!!

وَلَيُتِمَّنَّ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مَا بَيْنَ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخْشَى إِلَّا اللَّهَ تَعَالَى وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَعْجَلُونَ

Dan sungguh, benar-benar Allah Tabaaraka Wa Ta'ala akan menyempunakan urusan (agama) ini hingga ada seorang pengendara berjalan dari Shan'a menuju Hadarmaut dalam keadaan tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, atau khawatir kambingnya akan dimakan serigala. Akan tetapi kalian terburu-buru." (HR. Ahmad, No. 20148)

Bahkan Nabi صلى الله عليه و سلم menilai Khabab sebagai bagian dari golongan yang tidak sabar. Padahal Khabab, seorang pandai besi, adalah salah seorang sahabat yang telah mengalami penyiksaan yang sungguh hebat di masa awal da’wah Islam di Mekkah sebelum hijrah. Sya'bi, salah satu kawan sependeritaan Khabab, menggambarkan kegilaan orang-orang Quraisy yang menyiksa Khabab. Orang-orang kafir itu datang kepada Khabab dan menyeretnya keluar kemudian menindihnya dengan batu yang membara, hingga meluluhkan dagingnya. Namun hati Khabab tak sedikitpun terpengaruh, justru membuat ia semakin yakin akan kebenaran risalah yang diikutinya.Sahabatnya yang lain menceritakan bahwa orang-orang kafir itu datang ke rumah Khabab. Mereka membakar besi-besi yang hendak dijadikan pedang. Kemudian setelah membara mereka gunakan untuk tiang mengikat tangan, kaki, berikut tubuh Khabab.

Inilah di antara yang telah dialami oleh generasi pertama ummat Islam. Namun Rasulullah صلى الله عليه و سلم menyebut Khabab sebagai “Akan tetapi kalian terburu-buru.” Lalu Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم membandingkan dengan ujian yang telah dialami oleh ummat beriman di masa lalu. Seolah ingin mengatakan bahwa sabar dan meilpatgandakan kesabaran menghadapi ujian berat merupakan prasyarat untuk meraih kemenangan dan masuk surga.

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

"Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir". (QS. Al-Baqarah [2] : 250)



Syarat kedua agar orang-orang beriman meraih kemenangan dan berhak masuk taman keabadian penuh kenikmatan (yakni surga) ialah keharusan bertawakkal semata kepada Allah سبحانه و تعالى . Bilamana berbagai ujian dan penderitaan yang dialami kaum mukminin telah sampai ke derajat dimana orang-orang beriman tersebut hanya memohon pertolongan kepada Allah سبحانه و تعالى semata, maka pada saat itulah justeru pertolongan Allah سبحانه و تعالى akan segera datang. Dan tawakkal kepada Allah سبحانه و تعالى tersebut haruslah merata berlaku di segenap lini barisan kaum mukminin, baik Rasul maupun para pengikutnya, baik pemimpin maupun pengikutnya. Tidak boleh ada satupun lapisan kaum mukminin yang mengharapkan selain pertolongan Allah سبحانه و تعالى . Jangan sampai lapisan grassroot (akar rumput) para pengikut misalnya berharap kepada Allah سبحانه و تعالى , namun jajaran para pemimpin malah ada yang diam-diam mengharapkan bantuan dari kaum kuffar ataupun kaum munafik..!

حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“...sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah [2] : 214)

Dan tawakkal kepada Allah سبحانه و تعالى yang dituntut ialah tawakkal yang sempurna dan totalitas, bukan tawakkal yang parsial atau setengah-setengah. Tawakkal yang dituntut bukan hanya tawakkal kepada Allah سبحانه و تعالى dalam memohon pertolongan, yaitu dalam bentuk do’a, sholat lima waktu secara disiplin dan tepat waktu berjamaah di masjid, sholat tahajjud di tengah malam, berpuasa baik wajib maupun sunnah dan berbagai bentuk ibadah ritual lainnya. Tawakkal yang ditunutut hendaknya meliputi kefahaman dan keyakinan bahwa Islam mencakup baik urusan ritual, individual, sosial, politik, ekonomi, budaya, militer maupun segenap aspek kehidupan lainnya. Ia tidak mau menyerahkan urusan ibadahnya menurut ajaran Islam, namun urusan falsafah hidup bermasyarakat dan bernegara diserahkan kepada man-made ideologies (ideologi bikinan manusia). Ia tidak rela mengembangkan aspek ekonomi menurut aturan syariah sementara urusan politik berjalan mengikuti sistem politik produk kaum barat Yahudi-Nasrani. Sebab sikap seperti itu bukanlah bentuk sempurna bertawakkal kepada Allah سبحانه و تعالى semata.

Tawakkal sempurna kepada Allah سبحانه و تعالى akan menuntut orang-orang beriman supaya mengembalikan segenap urusan kepada petunjuk, aturan dan hukum Allah سبحانه و تعالى dan sesuai dengan tuntunan teladan utama orang-orang beriman yakni Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم. Demikianlah Allah سبحانه و تعالى gambarkan potret kumpulan manusia beriman terbaik yang selalu menghiasi panggung sejarah dunia.

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An-Nisa [4] : 69)

Kumpulan para Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh merupakan manusia-manusia yang senantiasa istiqomah di atas jalan lurus yang Allah سبحانه و تعالى bentangkan untuk mencapai keselamatan di dunia dan di akhirat. Mereka tidak pernah memiliki keraguan akan kekuasaan dan kedaulatan Allah سبحانه و تعالى . Mereka tidak pernah silau dan kagum sehingga menjadi inferior alias keder menyaksikan kesewenang-wenangan kaum kuffar ketika Allah سبحانه و تعالى izinkan mereka berkuasa sejenak di dunia. Bila Allah سبحانه و تعالى taqdirkan mereka hidup dalam potongan zaman dimana kaum kuffar berkolaborasi dengan kaum munafiq memimpin dunia tanpa petunjuk Allah سبحانه و تعالى , maka kaum beriman ini tidak surut dari jalan Allah سبحانه و تعالى betapapun tidak populernya sikap dan jalan yang mereka pilih.

Orang-orang beriman sejati adalah mereka yang tidak sudi memilih petunjuk, arahan, bimbingan kecuali yang jelas-jelas bersumber dari Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya Muhammad صلى الله عليه و سلم Mereka tidak akan rela memilih agama, jalan hidup, way of life selain Dienullah (agama Allah سبحانه و تعالى), Dienul-Haq (agama yang benar), Al-Islam. Dan mereka tidak meragukan sedikitpun agama Allah سبحانه و تعالى Al-Islam tersebut. Mereka sangat yakin bahwa agama Allah سبحانه و تعالى harus dilaksanakan secara keseluruhannya tanpa pemilahan dan pilih-pilih. Mereka tidak mudah ditipu oleh ajaran modern sesat Sekularisme. Suatu ajaran batil yang menyuruh ummat Islam agar memisahkan urusan agama dengan urusan kehidupan sehari-hari. Suatu ajaran yang mengatakan bahwa agama hendaknya diberlakukan sebatas dalam urusan kehidupan pribadi belaka atau di ruang lingkup masjid saja, sedangkan segenap urusan hidup seperti sosial, politik, budaya, ekonomi dan lain sebagainya hendaknya diatur berdasarkan rumusan teori-teori modern sesat produk kaum kuffar barat. Justeru orang-orang beriman sangat yakin dan tawakkal sepenuhnya kepada dienullah Al-Islam karena ia adalah sebuah ajaran yang syamil (menyeluruh), kamil (sempurna) dan mutakaamil (saling menyempurnakan). Dan mereka sangat ragu bahkan menolak berbagai teori, ajaran, konsep, ideologi, pandangan hidup, aturan hidup yang bersumber dari selain Allah سبحانه و تعالى Sebab bagaimana mungkin kaum beriman ragu kepada ajaran Allah سبحانه و تعالى padahal Dia adalah Yang Menciptakan langit dan bumi dan segenap makhluk di antara keduanya. Sementara apa yang telah dibikin oleh para manusia kuffar yang katanya cerdas dan berhasil menelorkan berbagai teori, konsep, ideologi, pandangan hidup, aturan hidup yang pantas menjadi pegangan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara di era modern ini?

Saudaraku, sudah tiba masanya bagi kita ummat Islam yang mengaku beriman untuk secara serius ber-tawakkal hanya kepada Allah سبحانه و تعالى dan segenap ajaranNya. Hendaknya kita berusaha mengokohkan keyakinan kita bahwa hanya dengan kembali kepada Allah سبحانه و تعالى sebagai Rabb, Al-Islam sebagai dien (jalan hidup) dan Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم sebagai teladan utama serta Al-Quranul Karim sebagai dustur (konstitusi) sajalah kita akan memperoleh pertolongan Allah سبحانه و تعالى

Hanya dengan bertawakkal dalam arti sebenarnya kepada Allah سبحانه و تعالى sajalah kita bakal sukses menghadapi berbagai fitnah yang mengelilingi hidup kita di era Akhir Zaman ini. Mari saudaraku, kita pastikan diri dan keluarga kita semuanya benar-benar hanya dan hanya ber-tawakkal kepada Rabb, Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa alam raya, yakni Allah سبحانه و تعالى . Jika semakin hari semakin banyak ummat Islam yang bersikap demikian, maka percayalah insya Allah pertolongan Allah سبحانه و تعالى tidak lama lagi akan datang menghampiri ummat Islam. Amiin ya Rabbal ‘aalamiin.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al-Baqarah [2] : 214)

Marilah kita kembangkan diri dan keluarga kita menjadi kaum beriman yang benar-benar sabar menghadapi berbagai ujian dan cobaan yang kian menghebat di Akhir Zaman ini. Lalu kita pastikan bahwa jiwa tawakkal kepada Allah سبحانه و تعالى menghiasi segenap aspek hidup. Jadilah kaum beriman yang tidak pernah ragu untuk hanya dan hanya bergantung kepada Allah سبحانه و تعالى dalam keadaan senang maupun susah.

(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab:

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

"Cukuplah Allah سبحانه و تعالى menjadi Penolong kami dan Allah سبحانه و تعالى adalah sebaik-baik Pelindung." (QS. Ali Imran [3] : 173)

disadur dari eramuslim

Salam

Kamis, 17 Februari 2011

Buat Apa Umur Kita?

Di sebuah siang, selesai shalat dzuhur penulis buka-buka Al-Qur’an. Tiba-tiba mata penulis tertuju pada sebuah ayat dalam surat Al-Anbiya (21). Ayat pertama dalam surat itu sangat menarik perhatian penulis. Berulang-ulang ayat itu penulis baca.
"Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)." (QS Al Anbiya’: 1)
Bahwa semakin dekat kepada manusia, saat-saat perhitungan untuk mereka, tapi karena bodohnya, karena lalainya, mereka lalu mengabaikan semua itu. Hal ini mengandung makna perjalanan waktu terus berputar. Waktu makin dekat dan akan datang saatnya kita menghadapi perhitungan-perhitungan atas segala perbuatan di dunia, namun kita sering lalai. Karena bodohnya kita atau karena sibuknya kita.
Manusia adalah mahluk serba bisa, bisa bertindak apa saja. Manusia bisa menggali gunung yang di dalamnya banyak tanah, pasir dan bebatuan, tidak hanya yang kecil bahkan yang besar-besar. Manusia mampu menyelam ke dalam lautan yang sangat dalam sekalipun. Manusia mampu menjelajah ruang angkasa. Manusia mampu menciptakan kabel yang sangat tipis namun bisa dilalui oleh informasi yang sangat banyak, dengan fiber optik manusia bisa membuat jaringan komunikasi, mendekatkan jarak yang saling berjauhan di dunia, dengan teknologi internet.
Nah, segala macam kehebatan sainsdan teknologi itu memperkokoh keyakinan pada diri kita bahwa manusiadapat melakukan segala-galanya. Kemudian muncul sebuah pertanyaan dalam benak penulis,kalau memang manusia bisa mengatasi semua masalahnya, suatu saat nanti,maka keyakinan akan keberadaan Tuhan bisa saja semakin hari semakin tipis.Kemudian manusia semakin punya harapan bahwa kehidupan itu bisa lebih dinikmati dengan semakin panjang karena segala-galanya bisa diciptakan. Kesan-kesan seperti itu muncul manakala kita menyadari keberadaan yang kolektif bersama manusia lain. Ketika kita sadar, kita hidup bersama manusia lain. Saling memberi, saling memberikan manfaat, saling memberikan sumbangan-sumbangan, maka seakan-akan muncul kekuatan itu, kepercayaan diri.
Tetapi seringkali kita lupa bahwa kita juga makhluk individual yang Allah mematikan manusia dengan konsep-konsep yang tidak kolektif. Setiap manusia menghadap Allah secara individu. Hubungan manusia dengan Allah bersifat individual yang tercermin pada Surat Al Baqarah ayat 286:
"…Lahaa Maa Kasabat Wa ‘alayhaa mak tasabat…" artinya: …seseorang mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…
Termasuk di dalamnya peristiwa kematian. Ia bersifat individual dan tidak bisa dicegah secara kolektif. Biasanya apabila manusia menghadapi kematiannya, ia akan sangat egois. Perhatikan kisah-kisah kapal laut yang karam, pada beberapa peristiwa kecelakaan kapal laut, para penumpangnya lebih menyelamatkan dirinya sendiri, meski di sampingnya ada anggota keluarga terdekat. Seorang ayah, secara sadar atau tidak, melepas anaknya. Suami istri saling melepas pasangannya ketika diamuk gelombang dan disaat mulai tenggelam.
Perhatikan juga Al Qur’an Surat ‘Abasa (80) ayat 33-37:
“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua) (33) pada hari ketika manusia lari dari saudara-saudaranya (34) dari ibu dan bapaknya (35) dari istri dan anak-anaknya (36) Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya (37)”
Dengan kemajuan teknologi, manusia akhirnya berasumsi kiamat rasanya masih panjang, karena segala macam problem-problem alam, bencana-bencana alam, masih bisa diatasi oleh manusia secara kolektif. Tetapi lain halnya dengan kematian. Ia tidak bisa dihindari secara kolektif maupun individual. Ia kapan saja bisa datang, sehingga wajar orang bilang kematian adalah kiamat kecil.
Jika kita renungkan, semakin hari kiamat kecil semakin dekat dengan kita. Usia kita, meski secara urut baris selalu bertambah, tetapi ternyata semakin mendekati azal, sementara kita tidak sadar apa yang sudah kita perbuat dalam hidup ini.
Allah Swt berfirman dalam surat Al Hasyr (59): 18
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…"
Lagi-lagi itu tadi; “Iqtaraba linnas” artinya telah semakin dekat bagi manusia saat-saat evaluasi untuk dirinya, saat-saat perhitungan untuk dirinya. Namun kebanyakan manusia terlena dalam kelalaiannya sehingga mengingkari keberadaan mati dan kiamat itu. Secara kolektif mungkin masih berpikiran kiamat ‘masih panjang’ tetapi secara individual tidak lama lagi kita akan mati. Apabila pada setiap pertambahan tahun terjadi pengurangan jatah kehidupan. Sedangkan Allah membatasi usia hingga umur 40 tahun, sekarang 39 tahun, maka sisa satu tahun lagi. Betapa singkat waktu tersisa bagi kita. Rugilah kita apabila hidup tidak diisi dengan iman dan amal shaleh.
Berbicara masalah waktu ada beberapa hal yang berhubungan dengan waktu, antara lain:
• Waktu adalah sesuatu yang unrenewable, sesuatu yang tidak bisa diperbaharui,
• Waktu adalah sesuatu yang unsubstituted, sesuatu yang tidak bisa diganti,
• Waktu adalah sesuatu yang unrecycled, sesuatu yang tidak bisa diulang.
Untuk memahaminya kita ambil permisalan salah satu sumber daya alam kita, minyak bumi. Minyak merupakan sumber daya alam yang terpendam didalam bumi. Fosil-fosil yang ratusan ribu mungkin jutaan tahun terpendam di dalam bumi mendapat tekanan dan temperatur tinggi berubah menjadi minyak. Tetapi ketika minyak sudah disedot keluar dan dibakar, orang tidak bisa memperbaharui, tidak bisa menanam bibit minyak lagi, dia sumber daya alam yang unrenewable, yang tidak bisa diperbaharui. Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan, contoh pohon padi, setelah selesai dipanen, kita bisa cari bibitnya, benihnya. Lalu kita tanami kembali. Pohon padi adalah sesuatu yang newable, bisa diperbaharui. Sedangkan waktu tidak bisa diperbaharui kembali.
Tetapi walaupun minyak habis dan tidak bisa diperbaharui, dia masih bisa tersubstitusi artinya ada alternatif pengganti. Jika minyak habis masih ada energi batu bara, energi panas bumi, energi nuklir. Sedangkan yang namanya waktu bukan saja tidak ada alternatifnya, tetapi juga tidak ada pengganti (unsubstitusi). Jadi jika waktu telah habis/berlalu maka tidak ada apa-apa lagi.
Jika waktu bisa diulang (recycled) mungkin kita ingin jadi kanak-kanak lagi. Karena masa kanak-kanak itu masa-masa indah, masa-masa tanpa problema.
Terkadang waktu membuat manusia lupa diri bahwa dia sesungguhnya memiliki kelemahan. Kira-kira melalui cara apa kita bisa introspeksi terhadap diri kita, karena selama ini kadang kita tidak merasa kalau kita telah berbuat suatu kedzaliman atau kesalahan kepada pihak lain, mungkin ada langkah-langkah tertentu agar kita juga mengingat kembali kalau kita salah?
Masalahnya adalah apakah kita bisa melihat diri kita jika kita masih ada di dalam diri sendiri? Mari kita ambil sebuah ilustrasi. Mengapa dalam sebuah pertandingan sepakbola, di dalam stadion, penonton yang berada di tribun atas lebih pintar dari pemain yang ada di lapangan? Karena penonton yang ada di tribun atas berjarak dengan permainan, maka penonton bisa melihat seluruh permainan. Jarak pandang pemain hanyalah apa yang ada di depannya, sedangkan pendangan penonton di tribun atas lebih luas. Mereka bisa melihat kekosongan, kekurangan, kelebihan atau kesalahan pemain. Begitu juga dalam hidup, apakah kita bisa melakukan evaluasi jika kita masih terlibat dalam aktifitas kehidupan?
Kita cenderung baru bisa menghargai isteri kalau sedang jauh darinya. Jika isteri tak ada terpaksa harus masak sendiri, mencuci sendiri dan lain-lain. Para istri juga baru bisa menghargai suami jika sedang jauh dari suami. Jika suami pergi keluar kota, turun hujan lalu atap rumah bocor, banyak air tergenang di dalam rumah, lalu mulai berangan-angan, ”jika saja suamiku ada…, ah kan, lumayan bisa memperbaiki atap yang bocor.”
Jadi agar kita bisa mengevaluasi diri, lepaskan ego. Keluar dari kehidupan diri, keluar dari rutinitas. Untuk bisa melakukan observasi kita harus membuat jarak.

disadur dari ust.Wahfiudin

Salam

Sabtu, 05 Februari 2011

Kejujuran Nabi Muhammad Dalam Berdagang

Walau wilayahnya gurun pasir yang tandus, tetapi letak jazirah Arabia sangat strategis, berada pada posisi pertemuan tiga benua; Asia, Afrika dan Eropa. Hal ini dimanfaatkan penduduk untuk berdagang. Pasar Ukaz di Makkah menjadi pusat perdagangan seluruh Arab, menjadi stasiun perhubungan antara Dunia Timur dengan Dunia Barat, antara Yaman di selatan dan Syam di utara, hingga Persi dan Ethopia di Afrika. Salah seorang dari pedagang itu adalah paman Nabi, Abdul Muthalib yang bertanggungjawab memelihara Muhammad sejak usia delapan tahun.


Walau Abdul Muthalib cukup disegani masyarakat Quraisy, tetapi dari segi kehidupannya jauh dari berkecukupan. Untuk meringankan beban pamannya, Nabi sering mengikuti kegiatan pamannya berdagang, kadang-kadang hingga ke negeri yang jauh seperti Syam (Syria sekarang). Mengikuti kafilah dagang hingga Syam ini sudah dilakoni Nabi waktu beliau masih usia 12 tahun. Tidak seperti pedagang pada umumnya, dalam berdagang beliau dikenal sangat jujur, tidak pernah menipu baik pembeli maupun majikannya. Beliau pun tidak pernah mengurangi timbangan ataupun takaran. Nabi juga tidak pernah memberikan janji-janji yang berlebihan, apalagi bersumpah palsu. Semua transaksi dilakukan atas dasar sukarela, diiringi dengan ijab kabul.

Karena kejujurannya tersebut serta integritasnya yang tinggi, beliau di beri gelar al-Amin yaitu orang yang terpercaya atau orang yang bisa dipercaya. Kejujuran Muhammad (belum jadi Nabi) dalam berdagang ini menarik perhatian seorang pedagang kaya raya yang juga janda bernama Siti Khadijah. Ia meminta kesediaan Muhammad untuk memutarkan modal yang dimilikinya. Kepercayaan yang diberikan Khadijah tidak disia-siakan oleh Muhammad, terbukti beliau berhasil melipatgandakan kekayaan Khadijah.

Selanjutnya hubungan keduanya tidak berhenti sampai disitu saja, tetapi diteruskan dengan hubungan pernikahan. Muhammad pada usia 25 tahun menikah dengan Khadijah yang waktu itu berusia 40 tahun. Suatu hal yang istimewa dari cara Nabi berbisnis ialah bahwa yang dicari tidak laba semata, melainkan terjalinnya hubungan silaturrahim dan keridhaan Allah SWT. Bagi mereka yang tidak sanggup membayar dengan kontan, padahal kondisinya sangat membutuhkan, Nabi memberi tempo untuk melunasi. Tidak jarang terjadi, bagi yang betul-betul tidak sanggup membayar, beliau membebaskannya dari utang.

Tetapi kejujuran Nabi dalam berdagang dan bantuan beliau pada mereka yang lemah dan mereka yang terlilit utang bukannya membuat beliau rugi. Dalam kenyataannya, semua pihak senang melakukan transaksi bisnis dengan beliau. Karena itu, walaupun tanpa menggunakan cara-cara licik dan melakukan penipuan, keuntungan yang beliau raih menjadi lebih besar. Sejarah mencatat bahwa Muhammad adalah pedagang yang paling sukses dalam masyarakat Quraisy waktu itu. Bagi kita yang hidup pada masa sekarang yang bisa dipetik dari pengalaman Rasulullah adalah bahwa pedagang yang jujur itu akan sangat beuntung, bukannya malah buntung.

Wallahu a'lam bishawab

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger