Minggu, 13 Juni 2010

Hakikat Mencintai Seseorang karena Allah

Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Dzar berkata : Rasulullah saw bersabda,”Sebaik-baik amal adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.”

Al Alamah Abadiy mengatakan bahwa makna “Sebaik-baik amal adalah cinta karena Allah” adalah karena-Nya bukan karena tujuan lain seperti ketertarikan dan berbuat baik. Diantara keharusan dalam mencintai karena Allah adalah mencintai para wali dan orang-orang pilihan-Nya. Dan diantara syarat kecintaan mereka adalah mengikuti jejak-jejak dan menaati mereka.

Sedangkan makna “benci karena Allah” adalah karena perkara yang pantas untuk dibenci seperti kefasikan, kezhaliman, pelaku kemaksiatan. Ibnu Ruslan mengatakan didalam “Syarh as Sunan” bahwa didalamnya terdapat dalil bahwa diwajibkan bagi seseorang memiliki musuh yang dibencinya karena Allah sebagaimana diwajibkan baginya memiliki teman-teman yang dicintai karena Allah.

Lebih jelasnya bahwa jika engkau mecintai seseorang hendaklah karena orang itu menaati Allah dan menjadi kekasih Allah. Ketika orang itu bermaksiat terhadap-Nya maka anda harus membencinya karena ia telah bermaksiat terhadap Allah dan menjadi orang yang dibenci Allah. Barangsiapa yang mencintai karena satu sebab maka sudah seharusnya dia membenci hal-hal yang bertentangan dengan sebab itu. kedua sifat ini sudah menjadi kelaziman yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya dan dia mejadi tuntutan didalam mencintai dan membenci didalam kebiasaannya. (Aunul Ma’bud juz XII hal 248)


Tidak disangsikan bahwa kecintaan seseorang kepada orang lain karena Allah swt adalah buah dari kecintaan dirinya kepada Allah swt. Karena seseorang yang mencintai Allah swt diharuskan pula untuk mencintai orang-orang yang mencintai Allah dan mereka dicintai oleh-Nya.

Ketika seseorang mencintai saudaranya karena Allah maka ia akan tetap mencintainya selama Allah mencintai orang itu dikarenakaan amal-amal shalehnya sebaliknya ketika Allah membencinya dikarenakan maksiat-maksiatnya maka dia pun akan membenci orang itu. Kecintaannya bukanlah karena hal-hal duniawi, seperti : harta, jabatan, kedudukan, nasab atau sejenisnya.

Berbahagialah seseorang yang mampu melakukan hal ini karena ia menjadi bukti benarnya keimanan dan keislamannya. Imam Malik mengatakan bahwa kecintaan karena Allah swt adalah diantara kewajiban keislaman seseorang.

Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Anas dari Nabi saw, dia berkata, "Tiga perkara jika itu ada pada seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman; orang yang mana Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, mencintai seseorang yang ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran tersebut sebagaimana ia benci untuk masuk neraka."

Para ulama mengatakan bahwa makna dari “manisnya iman” adalah merasakan kelezatan didalam ketaatan dan mengemban beban-beban didalam mendapatkan ridho Allah dan Rasul-Nya saw dan lebih mendahulukan keredhoan tersebut daripada perhiasan-perhiasan dunia. disadur dari eramuslim

Wallahu A’lam

Minggu, 11 April 2010

Dinamika Keluarga

Keluarga tak ubahnya seperti negara. Ada pimpinan, menteri, rakyat, kebijakan, dan aturan. Layaknya negara, dinamika politik keluarga pun mesti dinamis. Karena dengan begitulah, keluarga menjadi hidup, hangat, dan produktif.

Indahnya hidup berkeluarga. Di situlah orang belajar banyak tentang berbagai hal. Mulai masalah pendidikan, hubungan sosial antar anggota keluarga, ekonomi, pertahanan, komunikasi, organisasi, dan politik. Mungkin, itulah sebabnya, orang yang sukses dalam berkeluarga, insya Allah, akan sukses berkiprah di masyarakat. Bahkan, negara dan dunia.

Ada empat aspek yang selalu muncul dalam dinamika keluarga. Pertama, tiap anggota keluarga memiliki perasaan dan idea tentang diri sendiri yang biasa dikenal dengan harga diri atau self-esteem. Kedua, tiap keluarga memiliki cara tertentu untuk menyampaikan pendapat dan pikiran mereka yang dikenal dengan komunikasi. Ketiga, tiap keluarga memiliki aturan permainan yang mengatur bagaimana mereka seharusnya merasa dan bertindak yang selanjutnya berkembang sebagai sebuah sistem nilai keluarga. Yang terakhir, tiap keluarga memiliki cara dalam berhubungan dengan orang luar dan institusi di luar keluarga yang dikenal sebagai jalur ke masyarakat.


Cuma masalahnya, tidak semua pimpinan keluarga peka dengan dinamika yang ada. Kadang juga terlalu tegang menyikapi kesenjangan antara idealita dengan realita. Ketidakpekaan dan ketegangan inilah yang kerap membuat dinamika keluarga menjadi redup. Para anggota menjadi ikut kikuk, bungkam, dan takut.

Setidaknya, itulah yang kini dirasakan Pak Deden. Bapak lima anak ini mestinya bahagia dengan anugerah Allah berupa isteri shalihah dan anak-anak yang sehat dan cerdas. Tapi, entah kenapa ia agak bingung menatap perkembangan bawahannya.

Itu terjadi ketika beberapa masalah tidak sampai ke telinganya. Ia justru baru tahu setelah beberapa tetangga cerita. Masalah rapot sekolah anak-anaknya, misalnya. Pak Deden baru tahu ada pengambilan rapot ketika seorang tetangga menyapa. “Gimana rapot anak-anak, Pak Deden?” suara seorang bapak ketika Pak Deden mau berangkat ke kantor. Apa, rapot? Pak Deden terhenyak.

Lebih parah lagi, ketika Pak Deden mendapati kenyataan kalau anak-anaknya belum bisa terima rapot. Alasannya begitu sederhana. Ada beberapa pembayaran sekolah yang belum lunas. Lha, kenapa ia tidak tahu. Kenapa tak seorang pun yang menyampaikan masalah penting itu. Termasuk, isteri tercintanya.

Ada pemandangan lain yang tidak asing buat tetangga Pak Deden. Di sekitar rumah Pak Deden, banyak anak-anak bermain. Ada yang bersepeda, main bola, berkejar-kejaran, main petak umpet, dan lompat tali. Suara hiruk pikuk teriakan anak-anak begitu menderu meramaikan perkampungan rumah Pak Deden. Tapi, cuma ada satu pengecualian. Para tetangga nyaris tak pernah menemukan anak-anak Pak Deden membaur dalam permainan itu. Alasannya? Mereka mendengar kalau Pak Deden begitu ketat soal aturan bermain anak-anak: kalau nggak ada hubungan dengan pelajaran sekolah, bermain bisa di rumah. Titik.

Di satu sisi, para tetangga boleh heran dengan aturan Pak Deden tadi. Tapi, mereka juga dibuat kagum dengan kenyataan yang ada. Anak-anak Pak Deden kalem-kalem. Jarang bicara, tenang, tidak pernah blingsatan. Mereka pendiam. Ritme hidupnya begitu teratur. Pagi berangkat sekolah, pulang sekolah tidur siang, mandi sore, belajar, makan sore, shalat Maghrib, ngaji, shalat Isya, belajar, dan kemudian tidur. Kecuali hari Ahad mereka tampak bisa bermain keluar rumah. Itu pun tak lebih dari satu jam. Selebihnya, bermain di rumah atau nonton tivi.

Kalau ada yang bertamu ke rumah Pak Deden, pasti akan mengira kalau rumah yang sedang dikunjungi tidak punya anak, atau anak-anaknya sedang pergi. Karena suasana rumah itu begitu tenang, nyaris tanpa teriak dan celoteh anak-anak. Padahal, anak-anak Pak Deden ada di ruang lain. Karena begitulah aturannya: kalau ada tamu, tak boleh diganggu.

Lalu, apa semua itu yang jadi sebab komunikasi macet. Apa aturan-aturan ketat itu yang menjadikan keluarga Pak Deden terasa ‘aneh’ di mata tetangga-tetangganya. Gelap. Pak Deden bingung sendiri.

Sebelumnya, ia yakin betul kalau aturan dan dinamika keluarganya begitu istimewa. Tenang. Teratur. Bahkan, ia sempat terheran-heran dengan pemandangan unik keluarga teman kerjanya. Bayangkan, buat menentukan menu sarapan saja, suara riuh anak-anak rekannya itu terdengar nyaring bersahut-sahutan, “Saya nasi goreng! Mie goreng! Nasi uduk! Ketupat sayur!” Sungguh, sebuah pemandangan yang nyaris tak pernah terjadi di keluarga Pak Deden.

Ada satu lagi yang sulit terlupakan buat Pak Deden. Anak-anak rekan kerjanya itu begitu bebas memilih kendaraan pergi ke sekolah. Padahal, mereka masih sekolah dasar. Ada yang naik bus, bersepeda, jalan kaki. Apa nggak bahaya. Apa nggak sebaiknya diantar. Apa nggak…? Sederet kekhawatiran Pak Deden tiba-tiba menyeruak.

Pemandangan itu mengingatkan Pak Deden dengan anak-anak di rumah. Dari lima anak, cuma si sulung yang bisa naik sepeda. Selebihnya, belum berani. Pak Deden takut kalau terjadi apa-apa dengan anak-anaknya. Ia pernah dengar, anak tetangganya terjatuh hingga patah tulang tangan ketika belajar sepeda.

Sang teman begitu enteng bicara ketika Pak Deden menanyakan ‘kebebasan’ anak-anak rekannya itu, “Hidup ini perjuangan, Den. Hadapi, jangan lari!”

Ah, perlu banyak hal buat Pak Deden untuk menemukan pilihan-pilihan lain dari sebuah aturan. Bagaimana pun, diam itu tak sehat. Banyak penyakit yang mengendap. Perlu ada terobosan agar gairah keluarganya bisa lebih hidup. Dinamis. Agar tidak ada lagi kesunyian-kesunyian yang dipaksakan. disadur dari, muhammadnuh@eramuslim

Salam

Dahsyatnya Shalawat Pada Nabi Muhammad SAW

Allah adalah cahaya langit dan bumi. Rasul pun terbuat dari Nur Ilahi. Tidak satupun makhluk ciptaannya sanggup melihat Allah dengan mata telanjang, dan tak satupun tangan yang mampu untuk menjamahnya. Bahkan pembawa wahyu Qur'an malakul Jibril sekalipun tak sanggup menjulurkan ujung jarinya ke lawhulmahfudz. Hanya makhluk mulia yang ma'sum Nabi Muhammad SAW, yang sanggup menembus Arasy Allah, meski beliaupun tak pernah melihat sosok wujud Allah. Yang Rasul lihat hanyalah cahaya,cahaya,cahaya yang terang tetapi tidak menyilaukan mata.



Maka dengan segala kemuliaan yang berakhlaqul karimah, digambarkan dalam Quran, Allah dan para malaikatpun bershalawat kepadanya, baginda Rasulillah SAW. Bahkan Allah pun menyeru agar kita sebagai ummatnya untuk bershalawat pada makhluk agung ini. Bahkan makhluk yang di langit dan di bumi pun tunduk pada Rasulallah. Sebagaimana ketika Rasulallah sedang berjalan di atas gunung Uhud bersama para shabat, lalu tiba-tiba gunung tersebut berguncang hebat, Rasul menghentakkan kakinya diatas gunung Uhud; "wahai Uhud di atasmu ada Rasul pemimpin umat dan dua orang yang akan mati Sahid, berhentilah engkau berguncang" seketika itu pula gunung terhenti berguncang. Allahumma shalli wasallim wabaarik 'alayh.

Diriwayatkan Aisah ra, bertanya pada Rasul: Ya Rasulallah, siapakah orang yang bakhil sehingga di akhirat nanti mereka tidak bisa melihat dan berjumpa dengan engkau? Padahal cahayamu begitu terang? Rasul menjawab; "Wahai Istriku, sesungguhnya orang yang bakhil/pelit itu adalah orang yang tidak mau menjawab (shalallahu a'layhi wasallam,dsb)ketika namaku di ucapkan". Mereka tidak mendapat Safaatku kelak di akhirat nanti. Dan masih banyak lagi keagungan dan kemuliaan rasul yang tercatat dalam hadits-hadits.

Untuk itu wahai kaum muslimin muslimat, mari kita perbanyak shalat pada Nabi Muhammad SAW agar kelak di akhirat nanti kita dapat berjumpa dengannya dan mendapat safaat darinya. Amin.

Wallahu a'lam bishawab

Senin, 29 Maret 2010

Taqwa Itu Tersembunyi Dibalik Ujian

Di Jakarta utara rembesan air laut telah membuat kandungan air di dalam tanah menjadi asin, banyak warga yang membeli air untuk keperluan dapur seperti untuk minum dan memasak, dan air tanah di gunakan hanya untuk mandi dan mencuci pakaian. Pedagang-pedagang air keliling sering mondar-mandir didaerah padat tersebut dan hal itu sudah tidak asing lagi bagi penduduk sekitarya. Sebenarnya hampir seluruh Jakarta mengalami krisis air bersih, tetapi Jakarta Utara mengalami tingkat teratas dalam masalah ini.

Hari itu seorang pedagang air keliling terjatuh di depan Andi, ada batu yang membuat kakinya tersandung dan jatuh keselokan disamping trotoar jalan. Umur bapak tersebut sekitar enam puluhan jika dilihat dari keriput di wajah dan warna rambut yang hampir semuanya memutih. Kaki bapak itu terkilir sehingga jalannya agak pincang. Setelah membantu berdiri, Andi kemudian menepikan gerobak airnya agar tidak menghalangi jalan bagi kendaraan umum. " Ada yang bisa dibantu pak ?" tanya Andi berniat memberikan sedikit uang saku hanya sebagai tanda simpati. " Ada, bisa tolong saya di papah sebentar ke lorong sebelah sana , agak susah saya jalan di tempat sempit itu dengan kaki seperti ini " kata Bapak tersebut. Diantara rumah yang berjejer sangat rapat ada sebuah gang kecil yang berbatu tidak jauh dari mereka berdiri.


Andi memapah Bapak tersebut kearah yang dimaksud secara perlahan. Sesampainya disana ada seorang kakek yang jauh lebih tua dari Bapak tadi sedang duduk seperti merintih kesakitan. " Ini pak ada sedikit uang buat beli obat dan makan " kata Bapak tersebut kepada Bapak tua di depannya sambil memberi beberapa lembar uang ribuan. Hati Andi berdesir kencang, niat untuk memberi bantuan hilang seketika dan rasa malu muncul sebagai gantinya. Bapak tua itu seperti seorang pengemis yang sedang sakit karena terlihat disudut pintu ada sebuah mangkok yang masih menyisakan tiga keping uang pecahan seratus rupiah, entah dimana keluarganya yang lain. Andi secara sembunyi menyelipkan uang yang diniatkan untuk di berikan kepada tukang air tadi kepada pengemis yang sedang sakit itu.

" Memberi ketika berlebih itu mudah, tapi menyisakan sedikit dari yang sedikt itu agak susah dek" kata Bapak itu dalam papahan Andi. " iya Pak , mudah-mudahan Allah memberikan rezeki yang lebih banyak kepada Bapak" jawab Andi menguatkan keyakinan Bapak tersebut. " Bukan sekedar lebih banyak dek, tapi juga lebih berkah, takutnya banyak yang tidak berkah itu membuat kita sulit berbagi, dan uangnya habis tidak menentu" sahut Bapak itu sambil membetulkan posisi gerobak airnya. Andi hanya mengangguk sambil permisi untuk melanjutkan perjalanan, tapi dia kebingungan karena sepeda motor yang di parkir tidak jauh dari gerobak air bapak itu mendadak hilang. Andi bertanya kepada orang lewat atau yang kebetulan berada disana , tapi tidak ada yang mengetahui. Badan Andi lemas, sepeda motor itu adalah satu-satunya alat transportasi yang dimilikinya. " Ahhhh mengapa niat baik, mendapat hasil yang tidak baik ??" keluh Andi kepada Tuhan.

" Ada apa dek, motornya hilang ?" tanya Bapak itu mendekat kepada Andi. " Maafin Bapak dek, karena menolong Bapak, Adek jadi susah" keluh Bapak itu merasa bersalah. " Ya sudahlah , mau gimana lagi Pak, saya permisi dulu Pak, takut terlambat kekantor" jawab Andi yang terus berlari mencari kendaraan umum, saat itu Andi malas melapor kekantor polisi melaporkan kehilangan sepeda motornya.

Selang beberapa saat kemudian Andi sudah berada diatas Kopaja, sebuah angkutan umum menuju tempatnya bekerja. Diatas angkutan tersebut hanya ada delapan orang penumpang laki-laki termasuk dirinya, tidak lama kemudian naik seorang wanita yang berdandan seperti seorang karyawati yang hendak berangkat kerja dan duduk diantara penumpang. Memasuki jalanan agak sepi, salah seorang dari penumpang mencoba merampas tas milik wanita tersebut. Melihat hal itu Andi tidak tinggal diam, dia mencoba merebut kembali. Tetapi ternyata semua penumpang yang tersisa adalah kawanan penjahat. Mereka berhasil mengeroyok dan melempar Andi di tengah jalan. Beruntung saat itu Andi terjatuh diatara semak-semak belukar sehingga tidak mengalami kecelakaan lebih parah selain bekas pukulan lawan yang mendarat di muka dan tubuhnya. Andi berteriak minta tolong kepada orang berada disekitar sana untuk menghentikan Kopaja tersebut. " Ya Allah mengapa lagi-lagi niat baik, selalu menghasilkan sesuatu yang tidak baik, apakah ada yang salah dengan diri hambamu ini ya Rabb ?" kembali Andi mengeluh kepada Tuhan.

Kopaja tersebut telah menghilang di ujung jalan dan beberapa orang yang mengejarnya juga sudah tidak terlihat. Beberapa orang yang ada di lokasi bertanya-tanya apa yang terjadi dan di jawab singkat oleh Andi, karena tidak mau berlama-lama, apalagi sampai polisi datang. Entah mengapa Andi seperti tidak mau berhubungan dengan petugas ini dan berusaha menghindar, meskipun tenaga petugas itu jelas sangat di butuhkannya.

Setelah menjauh dari kerumunan massa, Andi baru menyadari bahwa dompetnya telah hilang, tidak ada yang tersisa. Niat untuk pergi kekantor mendadak hilang dan dia memutuskan untuk pulang kerumah. Masih ada sisa uang sedikit dikantong buat sekedar ongkos pulang pikir Andi sambil berjalan menelusuri jalan mencari posisi yang baik untuk memberhentikan bis angkutan. Beberapa lama berjalan, bis yang di tunggu tidak muncul juga. Tiba-tiba Andi melihat seorang anak kecil berseragam sekolah menangis di pinggir jalan. " Ada apa dik , ada yang bisa kakak bantu ?" tanya Andi mendekat kepada anak itu. " Aku tersasar kak, tadi teman-teman ninggalin Aku, waktu aku lagi pipis di belakang tembok itu " kata anak itu menunjuk karah tembok di ujung jalan. " Tapi bisa sampai sini gimana ceritanya, memangnya adik gak sekolah ? sekarangkan masih jam sekolah ? " pertanyaan beruntun diajukan Andi kepada anak itu " Dipulangkan Kak, soalnya gurunya ada rapat terus, teman ngajakin main kerumahnya, ada lima orang sih tadi yang jalan, terus habis turun dari bis aku kebelet pengen pipis, aku bilangin sama teman-teman agar nungguin , tapi malah di tinggal " cerita Anak itu dengan mata masih berair.

" Ya Allah kejadian apa lagi yang akan menimpa hamba setelah menolong anak ini ?" gumam Andi dalam hati, seperti ragu untuk menolong. " Tinggal mu dimana dik ?" tanya Andi. " Di Bandengan Kak" jawab anak itu.
" hhhmm uang hanya cukup untuk ongkos sampai rumah anak ini, terus aku pulang naik apa ? " pikir Andi putus asa, " ya sudahlah, Allah Maha melihat, mungkin inilah bentuk kepasrahan dan keikhlasanku hari ini yang hendak di uji dalam menempuh jalanNya" kata Andi meyakinkan dirinya. Andi kemudian berangkat mengantar anak itu kerumahnya. Setelah dua kali naik kendaraan umum , mereka tiba di sebuah perkampungan padat penduduk, dengan rumah yang sangat rapat antara satu dengan yang lain. Andi dibawa menelusuri gang berliku yang terkadang tampak agak kumuh. Tiba-tiba sewaktu memasuki gang sempit Andi dikejutkan dengan penglihatannya. Motornya yang hilang tersandar di sebuah dinding rumah, dan yang lebih mengejutkannya ternyata gerombolan orang yang tadi memukulnya di atas Kopaja sedang berkumpul disana. " Apakah ini perkampungan para pencuri dan perampok ?" pikir Andi semakin gelisah

" Jangan bergerak" kata seseorang dari belakang yang kemudian membekap mulut Andi dan menariknya. " Hehehehe masih tidak mau merepotkan adikmu ini " bisik seseorang. " Eh kamu Man, saya kira siapa, tahu dari mana kamu saya ada disini ?" balas Andi kepada orang itu. Dia adalah Rahman adiknya yang bertugas sebagai polisi didaerah Jakarta Utara. Andi selama ini memang tidak suka merepotkannya walaupun itu sudah menjadi kewajibannya. Banyak orang yang memanfaatkan posisi seseorang untuk mempermudah suatu urusan dan Andi tidak mau menjadi salah satu diantara mereka. " Ada laporan perampokan tadi dari seorang perempuan, dan informan kami mengatakan bahwa mereka lari kearah sini. Daerah ini memang telah lama jadi target kami dan saat ini angota polisi telah mengepung daerah ini" jawab adiknya atas pertanyaan Andi tadi.

Penangkapan berlangsung cepat, beberapa orang tersangka berusaha melarikan diri tetapi tertangkap. Motor Andi berhasil kembali tanpa kekurangan apapun, bahkan dompetnyapun dapat dikembalikan walaupun isinya sudah terkuras semua. Setelah mengantar anak itu pulang, Andi merubah niatnya untuk kembali bekerja, mengarungi sisa hari ini yang berjalan begitu cepat dengan banyak pelajaran yang tidak akan pernah dilupakannya, bahwa untuk menjadi orang yang bertaqwa itu memerlukan ujian untuk membuktikannya , bukan sekedar omongan yang di umbar kemana-mana, karena wujud taqwa adalah pada perilaku sehari-hari, perilaku para shalihin yang hanya mengharapkan ridho Allah semata. Wallahu alam bishawab


Salam

Jiwa Yang Tenang

Melintasi hari yang tak menentu, terkadang terik seperti memanggang kulit dan terkadang hujan menyapu jalanan. Saat itu matahari sedang tertawa diatas kepala , saya duduk diantara roda-roda berputar menerobos deru campur debu. Memenuhi kebutuhan hidup memaksa kaki banyak orang untuk berjalan kesana-kemari. Bekerja dan mempekerjakan, menyuruh dan disuruh, memerintah dan di perintah hanya demi benda keramat yang bernama uang. Benda ini telah mampu menyaingi Tuhan karena bisa membuat orang bekerja walaupun dengan terpaksa hanya dengan mencantumkan alasan yang masuk logika.

Ahhh... ternyata nama Tuhan telah tercoreng moreng dimana-mana. Tuhan telah diseret kelembaga tinggi hanya untuk mendengarkan sumpah kesetian yang berakhir dengan pengingkaran. ..." Demi Allah saya bersumpah... ." terdengar samar-samar Tuhan disebut-sebut. Ditempat arisan ibu-ibu, Tuhan telah bercampur dengan ghibah. " MasyaAllah.. .masa sih Jeng ibu itu suka gituan.....apa gak ingat umur dia" kata salah seorang ibu " Isya Allah kalau ada waktu nanti kita cerita-cerita lagi ya bu" kata ibu lain mengahiri. Di tempat pelacuran pun nama Tuhan sering dijadikan sebagai tameng. " pelan-pelan mas....bismillah. ..mudah-mudahan gak bocor kayak kemaren " bisik seorang pelacur yang alat kontrasepsinya sempat bocor beberapa waktu yang lalu.


" Yan masuk Dzuhur mampir ke masjid depan yuk " teriak teman dari atas sepeda motor. Beberapa orang mulai memarkir kendaraannya di depan masjid. Ada yang datang dengan jalan kaki termasuk para pedagang, karyawan, pelajar dan semua yang masih mengingat Tuhan saat itu. Diluar sana masih banyak yang mengejar tuhan-tuhan dunia, tuhan yang penuh warna. Tuhan sering berpindah-pindah, terkadang ada kepala terkadang singgah kehati nurani dan terkadang mampir kemulut. Sewaktu sholat Tuhan lebih sering berada di mulut, sedangkan kepala tetap berisi dunia dan permasalahannya. Kegelisahan tetap menghantui walaupun telah setor muka dengan Tuhan." 'ala bizzikrillahi tatmainnul qulub, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang " kata Allah di surah Ar Ra'd, akan tetapi mengingat Allah seperti apa yang menjadikan hati itu tenang ? apakah dengan melafazkan asmaNya berulang-ulang? seperti dilakukan oleh seorang bapak tua sampai tidur di pojok masjid selesai sholat dzuhur, atau ada cara mengingat yang lain ?

Sehabis mengarungi hari yan penuh liku, keletihan menghampiri sekujur tubuh, adzan maghrib mengalun menghentak jiwa. Banyak yang jiwa yang tersangkut di rongga-rongga jalan berbaur dalam kemacetan ibu kota, disudut-sudut kantor, mengais rezeki di pinggir-pinggir jalan dan yang lain terlena didepan acara televisi. " Ya ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji'i ilaa rabbiki radhiatan mardhiah, wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi di ridhoiNya" seru Allah di surah Al Fajr. hati tersentak seketika , ternyata yang dimakud dengan tatmainnul qulub atau hati yang tenang dengan mengingat Allah, adalah dengan mengingat bahwa kita akan kembali kepadaNya, bahwa apa yang kita cari didunia hanyalah bekal untuk beribadah dan bukan Allah yang harus menuruti cara hidup kita. seperti tangisan seorang anak " Ibu aku ingin kembali kepadamu ..tapi bekal perjalanku menujumu kurang ibu...berilah aku uang untuk bekal itu ibu....", aneh bukan ? disadur dari david sofyan

Salam

Jumat, 29 Januari 2010

MERASA DIRI PALING MERANA

aat itu saya tengah berada di kota Jeddah, Saudi Arabia. Terpapar dihadapan saya sebuah koran berbahasa Arab di lobby hotel. Tergerak saya melihat berita dan artikel yang tertulis di sana, hingga saya temukan sebuah tulisan yang amat bermanfaat ini.

Tersebutlah kisah nyata seorang kaya raya berkebangsaan Saudi bernama Ra'fat. Ia diwawancarai setelah ia berhasil sembuh dari penyakit liver akut yang ia idap. Pola hidup berlebihan dan mengkonsumsi makanan tak beraturan membuat Ra'fat mengalami penyakit di atas.

Ra'fat berobat untuk mencari kesembuhan. Banyak dokter dan rumah sakit ia kunjungi di Saudi Arabia sebagai ikhtiar. Namun meski sudah menyita banyak waktu, tenaga, pikiran dan biaya, sayangnya penyakit itu tidak kunjung sembuh juga. Ra'fat mulai mengeluh. Badannya bertambah kurus. Tak ubahnya seperti seorang pesakitan.

Demi mencari upaya sembuh, maka Ra'fat mengikuti saran dokter untuk berobat ke sebuah rumah sakit terkenal spesialis liver di Guangzhou, China. Ia berangkat ke sana ditemani oleh keluarga. Penyakit liver semakin bertambah parah. Maka saat Ra'fat diperiksa, dokter mengatakan bahwa harus diambil tindakan operasi segera. Ketika Ra'fat menanyakan berapa besar kemungkinan berhasilnya. Dokter menyatakan kemungkinannya adalah fifty-fifty.

"50% kalau operasi berhasil maka Anda akan sembuh, 50% bila tidak berhasil mungkin nyawa Anda adalah taruhannya!" jelas sang dokter.


Mendapati bahwa boleh jadi ia bakal mati, maka Ra'fat berkata, "Dokter, kalau operasi ini gagal dan saya bisa mati, maka izinkan saya untuk kembali ke negara saya untuk berpamitan dengan keluarga, sahabat, kerabat dan orang yang saya kenal. Saya khawatir bila mati menghadap Allah Swt namun saya masih punya banyak kesalahan terhadap orang yang saya kenal." Ra'fat berkata sedemikian sebab ia takut sekali atas dosa dan kesalahan yang ia perbuat.

Dengan enteng dokter membalas, "Terlalu riskan bagi saya untuk membiarkan Anda tidak segera mendapatkan penanganan. Penyakit liver ini sudah begitu akut. Saya tidak berani menjamin keselamatan diri Anda untuk kembali ke tanah air kecuali dalam 2 hari. Bila Anda lebih dari itu datang kembali ke sini, mungkin Anda akan mendapati dokter lain yang akan menangani operasi liver Anda."

Bagi Ra'fat 2 hari itu cukup berarti. Ia pun berjanji akan kembali dalam tempo itu. Serta-merta ia mencari pesawat jet yang bisa disewa dan ia pun pergi berangkat menuju tanah airnya.

Kesempatan itu betul-betul digunakan oleh Ra'fat untuk mendatangi semua orang yang pernah ia kenal. Satu per satu dari keluarga dan kerabat ia sambangi untuk meminta maaf dan berpamitan. Kepada mereka Ra'fat berkata, "Maafkan aku, Ra'fat yang kalian kenal ini sungguh banyak kesalahan dan dosa... Boleh jadi setelah dua hari dari sekarang saya sudah tidak lagi panjang umur..."

Itulah yang disampaikan Ra'fat kepada orang-orang. Dan setiap dari mereka menangis sedih atas kabar berita yang mereka dengar dari orang yang mereka cintai dan kagumi ini.

Ra'fat menyambangi satu per satu dari mereka. Meski dengan tubuh yang kurus tak berdaya, ia berniat mendatangi mereka untuk meminta doa dan berpamitan. Dan kondisi itu membuat Ra'fat menjadi sedih. Ia merasa menjadi manusia yang paling merana. Ia merasa tak berdaya dan tak berguna. Sering dalam kesedihannya ia membatin, "Ya Allah.... rupanya keluarga yang mencintai aku.... harta banyak yang aku miliki... perusahaan besar yang aku punya.... semuanya itu tidak ada yang mampu membantuku untuk kembali sembuh dari penyakit ini! Semuanya tak ada guna... semuanya sia-sia!"

Rasa emosi batin itu membuat tubuh Ra'fat bertambah lemah. Ia hanya mampu perbanyak istighfar memohon ampunan Tuhannya. Memutar tasbih sambil berdzikir kini menjadi kegiatan utamanya. Ia masih merasa bahwa dirinya adalah manusia yang paling merana di dunia.

Hingga saat ia sedang berada di mobilnya. duduk di kursi belakang dengan tangan memutar tasbih seraya berdzikir. Hanya Ra'fat dan supirnya yang berada di mobil itu. Mereka melaju berkendara menuju sebuah rumah kerabat dengan tujuan berpamitan dan minta restu. Saat itulah menjadi moment spesial yang tak akan terlupakan untuk Ra'fat.

Beberapa ratus meter di depan, mata Ra'fat melihat ada seorang wanita berpakaian abaya (pakaian panjang wanita Arab yang serba berwarna hitam) tengah berdiri di depan sebuah toko daging. di sisi wanita tadi ada sebuah karung plastik putih yang biasa menjadi tempat limbah toko tersebut. Wanita tadi mengangkat dengan tangan kirinya sebilah tulang sapi dari karung. Sementara tangan kanannya mengumpil dan mencuil daging-daging sapi yang masih tersisa di pinggiran tulang.

Ra'fat memandang tajam ke arah wanita tersebut dengan pandangan seksama. Rasa ingin tahu membuncah di hati Ra'fat tentang apa yang sedang dilakukan wanita itu. Begitu mobilnya melintasi sang wanita, sekilas Ra'fat memperhatikan. Maka ia pun menepuk pundak sang sopir dan memintanya untuk menepi.

Saat mobil sudah berhenti, Ra'fat mengamati apa yang dilakukan oleh sang wanita. Entah apa yang membuat Ra'fat menjadi penasaran. Keingintahuannya membuncah. Ia turun dari mobil. lemah ia membuka pintu, dan ia berjalan tertatih-tatih menuju tempat wanita itu berada.

Dalam jarak beberapa hasta Ra'fat mengucapkan salam kepada wanita tersebut namun salamnya tiada terjawab. Ra'fat pun bertanya kepada wanita tersebut dengan suara lemah, "Ibu..., apa yang sedang kau lakukan?"

Rupanya wanita ini sudah terlalu sering diacuhkan orang, hingga ia pun tidak peduli lagi dengan manusia. Meski ada yang bertanya kepadanya, wanita tadi hanya menjawab tanpa menoleh sedikitpun ke arah si penanya. Sambil mengumpil daging wanita itu berkata, "Aku memuji Allah Swt yang telah menuntun langkahku ke tempat ini. Sudah berhari-hari aku dan 3 orang putriku tidak makan. Namun hari ini, Dia Swt membawaku ke tempat ini sehingga aku dapati daging limbah yang masih bertengger di sisi tulang sisa. Aku berencana akan membuat kejutan untuk ketiga putriku malam ini. Insya Allah, aku akan memasakkan sup daging yang lezat buat mereka...."

Subhanallah. ...! bergetar hebat relung batin Ra'fat saat mendengar penuturan kisah kemiskinan yang ada di hadapannya. Tidak pernah ia menyangka ada manusia yang melarat seperti ini. Maka serta-merta Ra'fat melangkah ke arah toko daging. Ia panggil salah seorang petugasnya. Lalu ia berkata kepada petugas toko, "Pak..., tolong siapkan untuk ibu itu dan keluarganya 1 kg daging dalam seminggu dan aku akan membayarnya selama setahun!"

Kalimat yang meluncur dari mulut Ra'fat membuat wanita tadi menghentikan kegiatannya. Seolah tak percaya, ia angkat wajah dan menoleh ke arah Ra'fat. Kini mata wanita itu menatap dalam mata Ra'fat seolah ia berterima kasih lewat sorot pandang.

Merasa malu ditatap seperti itu, Ra'fat menoleh ke arah petugas toko. Ia pun berkata, "Pak..., tolong jangan buat 1 kg dalam seminggu, aku rasa itu tidak cukup. Siapkan 2 kg dalam seminggu dan aku akan membayarnya untuk setahun penuh!" Serta-merta Ra'fat mengeluarkan beberapa lembar uang 500-an riyal Saudi lalu ia serahkan kepada petugas tadi.

Usai Ra'fat membayar dan hendak meninggalkan toko daging, maka terhentilah langkahnya saat ia menatap wanita tadi tengah menengadah ke langit sambil mengangkat kedua belah tangannya seraya berdoa dengan penuh kesungguhan:

"Allahumma ya Allah... berikanlah kepada tuan ini keberkahan rezeki. Limpahkan karunia-Mu yang banyak kepadanya. Jadikan ia manusia mulia di dunia dan akhirat. Beri ia kenikmatan seperti yang Engkau berikan kepada para hamba-Mu yang shalihin. Kabulkan setiap hajatnya dan berilah ia kesehatan lahir dan batin.....dst"

Panjang sekali doa yang dibaca oleh wanita tersebut. Kalimat-kalimat doa itu terjalin indah naik ke langit menuju Allah Swt. Bergetar arsy Allah Swt atas doa yang dibacakan sehingga getaran itu terasa di hati Ra'fat. Ia mulai merasakan ketentraman dan kehangatan. Kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hampir saja Ra'fat menitikkan air mata saat mendengar jalinan indah kalimat doa wanita tersebut. Andai saja ia tidak merasa malu, pastilah buliran air mata hangat sudah membasahi pipinya. Namun bagi Ra'fat pantang menangis..., apalagi dihadapan seorang wanita yang belum ia kenal.

Ra'fat lalu memutuskan untuk meninggalkan wanita tersebut. Ia berjalan tegap dan cepat menuju mobilnya. Dan ia belum juga merasakan keajaiban itu! Ya, keajaiban yang ditambah saat Ra'fat membuka dan menutup pintu mobil dengan gagah seperti manusia sehat sediakala!!!

Sungguh doa wanita itu memberi kedamaian pada hati Ra'fat. Sepanjang jalan di atas kendaraan Ra'fat terus tersenyum membayangkan doa yang dibacakan oleh sang wanita tadi. Perjalanan menuju rumah seorang kerabat itu menjadi indah.

Sesampainya di tujuan lalu Ra'fat mengutarakan maksudnya. Ia berpamitan dan meminta restu. Ia katakan boleh jadi ia tidak lagi berumur panjang sebab sakit liver akut yang diderita.

Anehnya saat mendengar berita itu dari Ra'fat, sang kerabat berkata, "Ra'fat..., janganlah engkau bergurau. Kamu terlihat begitu sehat. Wajahmu ceria. Sedikit pun tidak ada tanda-tanda bahwa engkau sedang sakit."

Awalnya Ra'fat menganggap bahwa kalimat yang diucapkan kerabat tadi hanya untuk menghibur dirinya yang sedang sedih. Namun setelah ia mendatangi saudara dan kerabat yang lain, anehnya semuanya berpendapat serupa.

Dua hari yang dimaksud pun tiba. Ia didampingi oleh istri dan beberapa anaknya kembali datang ke China. Hari yang dimaksud untuk menjalani operasi sudah disiapkan. Sebelum masuk ruang tindakan, beberapa pemeriksaan pun dilakukan. Setelah hasil pemeriksaan itu dipelajari maka ketua tim dokter pun bertanya keheranan kepada Ra'fat dan keluarga:

"Aneh....! dua hari yang lalu kami dapati liver tuan Ra'fat rusak parah dan harus dilakukan tindakan operasi. Tapi setelah kami teliti, mengapa liver ini menjadi sempurna lagi?!"

Kalimat dokter itu membuat Ra'fat dan keluarga menjadi bahagia. Berulangkali terdengar kalimat takbir dan tahmid di ruangan meluncur dari mulut mereka. Mereka memuji Allah Swt yang telah menyembuhkan Ra'fat dari penyakit dengan begitu cepat. Siapa yang percaya bahwa Allah yang memberi penyakit, maka ia pun akan yakin bahwa hanya Dia Swt yang mampu menyembuhkan. Jangan bersedih dan merasa hidup merana. Sadari bahwa dalam kegetiran ada hikmah bak mutiara! di sadur dari Ust. Boby

salam

Selasa, 26 Januari 2010

Selera Suami

Selera kadang seperti anak kecil. Jujur, polos, apa adanya. Sulit ditutup-tutupi jika keinginannya ingin terpenuhi. Walaupun keinginan itu tak disukai banyak orang.

Hidup berumah tangga punya seribu satu cerita. Ada suka dan duka. Ada pengalaman jenaka. Semua itu memberikan kesan yang begitu dalam. Sayangnya, tidak semua pasangan pandai menata kesan-kesan itu sebagai pelajaran berharga.

Ada beberapa sebab. Pertama, tidak semua orang punya daya kepekaan yang tinggi. Dinamika berumah tangga dianggap sebagai sesuatu yang biasa. “Biasa, hidup berumah tangga!” begitulah tanggapan yang muncul. Sebab kedua, kurang perhatian dengan urusan rumah tangga. Rumah tangga hanya sebagai tempat singgah: istirahat sejenak untuk kemudian pergi lagi dengan urusan masing-masing. Dan ketiga, lemahnya bangunan komunikasi antar sesama anggota keluarga. Suasana rumah jadi hambar, dingin, dan kemudian asing.

Gambaran seperti itu sama sekali tidak dialami Bu Aam. Justru, ibu dua anak ini sedang kerepotan dengan selera makan suami. Kelihatannya urusan sepele, tapi buat Bu Aam lumayan besar. Pasalnya, ada kesukaan makan suami yang tidak hanya dibenci Bu Aam; tapi juga orang tua Bu Aam, anak-anak, bahkan tetangga. Suaminya senang jengkol!


Bu Aam tak habis pikir, bagaimana mungkin orang bisa doyan jengkol. Dari baunya saja, bisa bikin minat makan pupus. Apalagi rasanya. Waduh, benar-benar nggak kebayang di benak Bu Aam.

Sebenarnya, kesukaan makan suami berupa jengkol dan turunannya seperti pete baru beberapa bulan disadari Bu Aam. Selama ini selera itu tidak terungkap. Entah kenapa, suaminya tidak pernah bilang kalau dia doyan jengkol dan pete. Mungkin malu, atau dampak dari ucapan Bu Aam di awal pernikahan.

Waktu itu, Bu Aam sempat bilang kalau hampir semua makanan yang halal ia sukai. Mulai buah, gorengan, ikan, daging; bahkan pare sekali pun. Tapi, ada satu yang paling ia benci. “Saya cuma tidak suka jengkol!” ucap Bu Aam suatu kali. Saat itu juga, suaminya diam. Pembicaraan soal makanan kesukaan berhenti total.

Nah setelah itu, Bu Aam kerap mendapati suami sudah makan di warung selepas pulang kerja. Padahal, Bu Aam sudah menyiapkan makan malam. “Maaf, Dik. Mas sudah makan!” ucap suami tanpa beban.

Selama hampir empat tahun misteri selera suami Bu Aam itu tetap aman. Hingga adanya cerita ibu mertua Bu Aam ketika berkunjung suatu kali. “Suamimu itu, hobi banget sama jengkol!” ucap sang ibu sambil senyum.

Sejak itu, terjawab sudah keanehan-keanehan selama ini. Mulai dari makan di warung, hingga bau tak sedap di kamar mandi. Soal yang terakhir, Bu Aam sempat buruk sangka dengan tetangga. Karena tinggal di rumah petakan, kamar mandi Bu Aam dan tetangga berhimpit dengan dinding penyekat tidak sampai ke atap. Jadi, bukan cuma suara yang terdengar dari balik kamar mandi tetangga, baunya pun bisa mampir. Termasuk, bau jengkol.

Waktu itu, Bu Aam yakin sekali kalau aroma khas itu bukan dari kamar mandinya. Tidak heran kalau ia sempat mengumpat, “Dasar, makan tidak pilih-pilih!” Betapa malunya Bu Aam kalau ingat itu.

“Memang apa salahnya orang senang jengkol?” tanya seorang teman Bu Aam suatu kali. Bu Aam cuma diam. Matanya menatap lekat sang teman. Ia mulai menilai kalau temannya pasti doyan jengkol. “Memang, apa enaknya makan jengkol?” kilah Bu Aam menimpali. Sang teman menjawab panjang lebar.

Dari situlah, Bu Aam paham kenapa orang menganggap nikmat makan jengkol, klaim nilai gizi, penambah selera makan dan sebagainya. Dengan berat hati, ia pun ingin memaklumi hobi suami itu. Berat memang. Karena pemakluman seperti itu punya konsekuensi. Apalagi kalau bukan menyediakan jengkol di menu makan keluarga. Weleh-weleh, gimana dengan anak-anak. Bisa-bisa, mereka ikut-ikutan bapaknya. Repot! Satu orang saja, bau kamar mandi nggak karuan. Apalagi dengan anak-anak.

Sebelum pemakluman itu diberlakukan, Bu Aam mewanti-wanti kedua anaknya. Intinya, jangan pernah doyan jengkol. “Jengkol itu bau, nggak enak, pahit. Pokoknya nggak enak!” ucap Bu Aam agak provokasi. Kedua anaknya cuma bengong mendengar ucapan sang ibu.

Tapi, kenyataan di luar dugaan. Entah kenapa, suami Bu Aam justru minta maaf. Ia menyesali sikapnya yang bikin repot isteri tercinta. “Maafin Mas, ya Dik. Gara-gara jengkol, Adik jadi susah!” ucap sang suami prihatin. Dan benar saja, sejak detik itu, tak ada lagi gejala jengkol di rumah Bu Aam. Suaminya jadi rutin makan malam di rumah. Dan tentu saja, kamar mandi bersih dari aroma ‘segar’ jengkol.

Namun begitu, Bu Aam justru jadi kikuk dengan perubahan selera suami. Ia merasa bersalah. Karena ingin menyenangi isteri, suaminya jadi berkorban. “Duh, kasihan suamiku,” sesal Bu Aam dalam hati.

Beberapa kali Bu Aam menyediakan hidangan jengkol olahan warung di keluarga. Mulai jengkol semur, rendang, goreng, dan lain-lain. Tapi, tetap saja. Suami tak pernah mencicipi olahan-olahan itu. Jangankan makan, menyentuh pun tidak. “Sudahlah, Dik. Saya benar-benar ikhlas tidak lagi makan jengkol!” ucap suami tenang. Tak ada suara berat di situ. Tampaknya, suami Bu Aam benar-benar tulus.

Beberapa minggu berlalu sejak kejadian itu. Tidak ada hidangan jengkol, tidak ada kebingungan Bu Aam. Dan, tidak ada bau tak sedap di kamar mandi. Tiba-tiba, hidung Bu Aam menangkap sesuatu. Ia berusaha mencari tahu. Dan, “Hm, seperti bau...bau, ah tak mungkin. Tak mungkin itu!” Bau makin kentara ketika Bu Aam berada di bibir pintu kamar mandi. Yah, bau itu yang pernah bikin panik Bu Aam. Bau jengkol.

Bukankah suami sudah tidak makan jengkol? Apa dari tetangga? Bu Aam meneliti setiap sudut kamar mandi. Dan ia pun yakin, bau itu memang dari kamar mandinya. Lalu, siapa? Apa mungkin suaminya kambuhan. Ah, nggak mungkin! Ia tahu benar watak suaminya. Lagi pula, tiga hari ini, suaminya sedang keluar kota. Jadi siapa?

Dari balik kamar, suara anak-anak Bu Aam terdengar riang. “Kak, enak ya. Hi..hi..hi,” suara si kecil sambil cekikikan. Sang kakak terlihat senyum-senyum. Melihat kecurigaan itu, Bu Aam menghampiri. “Enak apanya, Dik? Kalian makan permen, ya?” Keduanya menggeleng. “Kalian makan apa?” tanya Bu Aam lagi lebih tegas. “Je...je...jengkol!! Dari nenek tadi pagi!” ucap sang kakak polos.

salam

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger